Ketika Berlakunya Operasi Senyap demi Keharmonisan PKB-NU

Azhar 5 Feb 2026, 22:09
PKB dan Nahdlatul Ulama. Sumber: Internet
PKB dan Nahdlatul Ulama. Sumber: Internet

RIAU24.COM - Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bandung Barat, Asep Hidayatul Muttaqin mengklaim sukses melakukan operasi senyap untuk menurunkan tensi ketegangan PBNU era KH Yahya Cholil Staquf dan PKB di bawah Muhaimin Iskandar.

Operasi senyap yang dia maksud yakni konsolidasi diam-diam dari kalangan kiai yang dekat dengan PKB, dikutip dari rmol.id, Kamis, 5 Februari 2026.

"Secara politik PKB tidak mungkin pasif. Mereka membaca bahwa kepemimpinan PBNU saat ini cenderung menjauh dari basis politik historisnya. Maka wajar jika muncul upaya menyiapkan figur alternatif untuk Muktamar ke-35," ujarnya.

Operasi senyap tersebut bahkan menghasilkkan empat figur dalam rangka merepresentasikan kepentingan PKB lebih dekat dengan akar rumput NU.

Pertama adalah pengasuh Pesantren Denanyar, Jombang, KH Abdul Salam Shohib. 

Sosok yang akrab disapa Gus Salam ini dinilai memiliki legitimasi kultural kuat sebagai cucu muassis NU dan paman dari Cak Imin. 

Ia dikenal vokal mengkritik arah kepemimpinan PBNU saat ini.

"Gus Salam mewakili suara kiai sepuh yang ingin PBNU kembali lebih akomodatif terhadap aspirasi politik warga NU," ujarnya.

Kedua adalah KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf. 

Pengasuh Pesantren API Tegalrejo, Magelang ini disebut sebagai figur perekat yang memiliki jaringan luas.

Ketiga ada KH Imam Jazuli. Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon ini dikenal sebagai orang dekat elite PKB dan paling vokal membela PKB saat dimarjinalkan oleh PBNU periode Gus Yahya.

Jargon "Nahdliyin 24 Karat" adalah idenya, yang merujuk pada prinsip bahwa warga NU sejati seharusnya memilih PKB. 

Ia secara tegas menolak politisasi PBNU yang menggembosi PKB.

Keempat ada Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa. 

KH Zulfa merupakan figur jembatan yang diterima di struktur jam’iyyah, namun tetap memiliki simpati terhadap PKB.

Menurut Asep, kedekatan dengan jaringan partai dan status sebagai keponakan KH Ma’ruf Amin membuat KH Zulfa sering disebut sebagai 'kuda hitam'.