Perempuan Perajin Keripik Tempe di Bintan Menjadi Bukti Nyata Dampak Program CSR BRK Syariah bagi UMKM
Upaya itu membuahkan hasil. Pada 2022, keripik tempe produksinya mulai masuk pasar dan telah mengantongi logo halal. Pemasaran dilakukan secara bertahap, mulai dari lingkungan terdekat seperti organisasi, PKK, hingga arisan. Yanti juga mengurus izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sehingga produknya kini bisa dipasarkan di gerai D’Sayur dengan harga Rp14.000 per kemasan untuk rasa original.
Permintaan pasar pun terus meningkat. Bahkan, Yanti pernah menerima pesanan hingga 75 kilogram, meski belum dapat dipenuhi karena keterbatasan stok bahan baku. Menjelang Lebaran, kelompok usahanya telah membuka sistem pre-order sejak jauh hari.
Di sela proses produksi, Yanti memiliki kebiasaan yang tak biasa. “Saya sambil mengiris tempe selalu bershalawat,” katanya. Saat ini, seluruh anggota kelompok juga telah menggunakan sistem pembayaran digital QRIS.
Yanti juga Ketua Kelompok UP2K Seraiwangi di Kecamatan Bintan Timur. Bersama kelompoknya, ia memproduksi beragam makanan olahan, mulai dari aneka kue kering, kerupuk, rengginang, peyek, bolu, donat, keripik pisang pedas manis, kue semprong, hingga produk khas Kepri seperti gonggong rebus dan telur cumi asin.
Dorongan besar datang pada Desember 2025, ketika kelompok UP2K menerima bantuan alat produksi dari program CSR BRK Syariah senilai sekitar Rp42 juta. Bantuan tersebut mencakup oven, alat pengiris tempe yang juga bisa digunakan untuk singkong dan keladi, kukusan besar, penggiling daging, hingga mesin pengadon donat.
“Rasanya seperti dapat harta karun. Senang sekali, bahkan anggota-anggota saya itu sampai mau menangis karena terharu,” tutur Yanti.