Perempuan Perajin Keripik Tempe di Bintan Menjadi Bukti Nyata Dampak Program CSR BRK Syariah bagi UMKM
Dengan bantuan tersebut, kapasitas produksi meningkat signifikan. Saat ini, produksi keripik tempe mencapai sekitar 2,7 kilogram per hari. Yanti juga telah memiliki dua anggota yang membantu proses produksi, seiring pengembangan usaha kue kering.
“Prinsip saya sejak awal, usaha ini harus bisa membawa orang lain ikut bekerja dan punya penghasilan tambahan untuk keluarganya,” kata Yanti, yang juga aktif dalam kegiatan PKK.
Menurutnya, bantuan dalam bentuk peralatan dari CSR BRK Syariah ini jauh lebih bermanfaat karena benar-benar sesuai kebutuhan kelompok. “Sebelumnya produksi kami terbatas, karena mengerjakannya secara manual. Sekarang jauh meningkat, apalagi saat momen hari besar dan acara besar,” ujarnya.
Bagi Yanti dan anggota UP2K lainnya, bantuan alat produksi tersebut bukan sekadar dukungan usaha, tetapi juga pengakuan atas perjuangan panjang yang dimulai dari dapur rumah, kesabaran, dan keyakinan untuk terus melangkah.
Branch Manager BRK Syariah Bintan Imam Hadi Suryono menegaskan bahwa pemberian alat bantu produksi seperti yang diterima oleh Yanti merupakan bagian dari komitmen jangka panjang BRK Syariah dalam memberdayakan UMKM. Program bantuan alat produksi untuk UMKM ini sudah berjalan sejak 2024, dan dilakukan berkolaborasi erat dengan pemerintah daerah setempat untuk menjangkau pelaku usaha yang benar-benar membutuhkan dukungan non-finansial dan finansial.
“Kami melihat UMKM adalah tulang punggung perekonomian daerah. Melalui CSR dan sinergi dengan pemerintah, kami ingin menguatkan ekosistem usaha masyarakat sehingga bisa terus tumbuh dan berdaya saing,” ujar Imam.