Kaesang Kembali Pimpin PSI, Jokowi Turun Gunung: Reformasi Politik atau Konsolidasi Keluarga?
Meski demikian, dukungan politiknya tak diragukan. Jokowi memuji konsep “Partai Super Tbk” yang diusung PSI—yakni sebuah model organisasi partai di mana seluruh anggota dianggap memiliki “saham” politik dan ikut menentukan arah kepemimpinan. Salah satu praktik yang ditonjolkan adalah penggunaan sistem e-vote dalam pemilihan ketua umum.
“Kalau model politik seperti ini kita lakukan, tidak ada lagi politik di belakang layar. Semuanya open, semuanya transparan. Tidak ada lagi keputusan segelintir orang,” kata Jokowi saat menyampaikan pidatonya.
Tapi bagi Iwan Setiawan, konsep Partai Tbk yang diklaim PSI masih belum lebih dari sekadar gimmick. Menurutnya, hanya mengandalkan sistem pemilihan digital tidak cukup untuk menyebut PSI sebagai partai terbuka.
“Kalau konsep TBK hanya diukur dari metodologi pemilihan ketum, itu belum memenuhi syarat sebagai partai terbuka. PSI harus punya penerapan yang komprehensif,” tegasnya.
Iwan menilai, slogan “PSI partainya Jokowi” bukan sekadar retorika, melainkan cerminan realitas. Kaesang yang tak memiliki rekam jejak panjang dalam politik tetap mendapat kepercayaan sebagai pucuk pimpinan partai. Lebih jauh lagi, PSI juga disebut-sebut menjadi benteng politik yang akan melindungi anak dan menantu Jokowi setelah dirinya tak lagi menjabat presiden.
“Dengan PSI, Jokowi masih punya nilai tawar dan kendaraan politik untuk tetap eksis,” kata Iwan.