Menu

Rocky Gerung Sentil Jokowi: Presiden Bukan Bapak Bangsa, Kok Tak Boleh Dikritik?

Zuratul 21 Aug 2025, 11:04
Rocky Gerung Sentil Jokowi: Presiden Bukan Bapak Bangsa, Kok Tak Boleh Dikritik?
Rocky Gerung Sentil Jokowi: Presiden Bukan Bapak Bangsa, Kok Tak Boleh Dikritik?

RIAU24.COM -Akademisi Rocky Gerung kembali mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sebuah forum diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. 

Dalam forum itu, Rocky menilai demokrasi Indonesia tengah mengalami kemunduran di era Jokowi

Ia menyoroti putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membuka jalan bagi putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, untuk maju sebagai calon wakil presiden di Pemilu 2024.

Menurut Rocky, keputusan MK tersebut memang tidak secara eksplisit melanggar Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. 

Namun, ia menilai langkah itu bertentangan dengan prinsip demokrasi dan hukum lain yang seharusnya melindungi kepentingan publik.

“Presiden Jokowi tidak melanggar UUD, tetapi melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak. Anak kecil seharusnya tinggal di rumah, bukan ikut sidang kabinet,” kata Rocky, yang langsung disambut riuh tepuk tangan audiens.

Demokrasi yang Dianggap Merosot

Rocky menegaskan bahwa demokrasi di Indonesia bukan dibangun oleh presiden, melainkan oleh gerakan mahasiswa sejak reformasi 1998. Karena itu, ia menolak narasi yang menyebut Jokowi sebagai tokoh yang menjaga demokrasi.

“Demokrasi kita lahir sejak 1998, bukan karena Jokowi. Presiden datang ketika negara ini sudah demokratis. Justru sekarang demokrasi dirusak lewat problem di Mahkamah Konstitusi,” ucapnya.

Rocky juga menyinggung turunnya indeks demokrasi Indonesia beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa institusi demokrasi memang ada secara formal, tetapi gagal menanamkan nilai substantif.

“Gedung Mahkamah Konstitusi ada, tetapi di dalamnya tidak ada ide tentang konstitusionalisme. Demokrasi tersedia, tapi tidak ada institusionalisasi nilai. Itu yang membuat indeks kita turun,” tambahnya.

Kritik terhadap Budaya Akademik

Selain menyoroti politik nasional, Rocky juga menyinggung budaya akademik di kampus yang menurutnya masih sarat feodalisme. Ia menolak pandangan bahwa ruang akademis hanya milik rektor atau profesor, dan menekankan bahwa mimbar akademik harus terbuka bagi setiap orang yang memiliki argumen.

UGM jangan sampai jadi Universitas Gajah Merah. Mimbar akademis bukan milik pejabat kampus, melainkan semua civitas akademika yang punya dalil. Kalau perlu, mahasiswa berani bilang: dosen tolol, guru besar bodoh, supaya terjadi dialektika,” ujar Rocky.

Menurutnya, tanpa dialektika, universitas hanya akan melahirkan kepatuhan buta dan kehilangan peran sebagai penjaga rasionalitas publik.

Presiden Bukan 'Bapak Bangsa'

Rocky juga menolak konsep presiden sebagai “bapak bangsa” yang tidak bisa dipersoalkan. Ia menyebut logika itu feodalistik dan menghambat partisipasi rakyat dalam mengawasi kekuasaan.

“Kalau bapakmu, kamu memang tidak pilih. Tapi presiden kita pilih setiap lima tahun. Karena itu, presiden sah untuk dipersoalkan. Kedaulatan ada di tangan rakyat, bukan pada simbol bapak bangsa,” kata Rocky.

Respons Pihak UGM dan Istana

Pernyataan Rocky Gerung di UGM itu memicu perhatian publik. Pihak UGM menegaskan bahwa forum tersebut merupakan ruang akademis terbuka yang memungkinkan siapa saja untuk menyampaikan pandangan.

UGM menghormati kebebasan akademik dan kebebasan berpendapat. Semua pandangan yang disampaikan narasumber adalah tanggung jawab pribadi, bukan sikap resmi universitas,” kata Kepala Humas UGM dalam keterangannya.

Sementara itu, hingga kini pihak Istana belum memberikan tanggapan resmi atas kritik Rocky Gerung terhadap Presiden Jokowi.

Kabar terbaru, Rocky Gerung belakangan ini banyak diserang netizen perihal selalu mengkritik keras Presiden ke – 7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Sementara itu, sang Presiden RI, Prabowo Subianto justru tidak pernah mendapatkan kritikan keras seperti Jokowi.

Perlakuan keduanya yang tak sama ini dianggap netizen tidak adil, sehingga mereka menyerang Rocky Gerung.

Menanggapi hal ini, Rocky Gerung justru menyebut bahwa sudah terlalu banyak kesalahan Jokowi, sehingga dirinya tega mengkritik keras.

Rocky menyebutkan kesalahan yang dilakukan Jokowi selama menjabat yakni menjanjikan Mobil Esemka hingga mengamburkan APBN untuk membangun Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.

“Orang protes ke saya, kenapa enggak kritik Pak Prabowo setajam kritik pada Pak Jokowi,” ujar Rocky, dikutip dari @RockygerungOfficial_2024, Rabu (20/8/25).

“Jadi kenapa terus menerus Jokowi jadi sasarannya? Karena saya anggota KAMI, bukan anggota KAMU. KAMI artinya Kapasitas Mikir, KAMI dihidupkan oleh satu ide turunkan Jokowi, itu clear,” imbuhnya.

Rocky kemudian menjelaskan bahwa suaranya selama ini adalah untuk menurunkan Jokowi.

Namun kini meskipun Jokowi sudah tidak menjabat lagi, Rocky menyebut bukan berarti pihaknya harus diam.

Menurutnya, ia dan rekan – rekan seperjuangannya akan tetap bersuara menaklukkan Jokowi yang sudah dianggapnya jahat.

“Sekarang Jokowi sudah bukan lagi penguasa, maka KAMI harus bubar, logikanya begitu? Tidak,” ujarnya.

Jokowi sudah turun, tapi kejahatannya masih hidup, itu soalnya,” tambahnya.

Rocky kemudian menjelaskan bahwa kini tujuan akhirnya sudah bukan lagi menurunkan Jokowi, melainkan menyeret Jokowi ke dalam jeruji besi.

Rocky mengatakan bahwa bukan pihaknya yang berteriak seperti itu, melainkan suara ini adalah suara masyarakat yang diwakilinya.

(***)